160 x 600 Ad Section

Sejarah Reog / Barongan


Reog Ponorogo pada mulanya disebut barongan. Berasal dari kata barong, yang dalam kamus Bausastra Jawa-Indonesia, berarti bulu pada leher singa. Barongan sendiri pertama kali dibuat oleh Ki Ageng Kutu yang bernama lengkap Ki Ageng Ketut Suryongalam. Ki Ageng Kutu adalah seorang demang atau kepala desa. Desa Kutu sendiri sekarang terletak di Kecamatan Jetis, berjarak sekitar 17 kilometer sebelah selatan kota Ponorogo.

Ki Ageng Kutu sangat kritis terhadap terhadap kebijakan penguasa terakhir Kerajaan Majapahit Bhre Kertabhumi, yang memerintah antara tahun 1474-1478. Sikap yang demikian didasari atas tanggung jawabnya sebagai penganut agama yang taat dan kecintaan terhadap raja dan tanah airnya. Dia prihatin melihat Majapahit telah dikuasai oleh isteri rajanya. Kemarahannya dikarenakan ketidaktegasan Prabu Bhre Kertabhumi menghadapi arus Islamisasi yang dilancarkan oleh sejumlah wali, terutama Raden Patah alias Jin Bun, anaknya sendiri dari putri Cina, seorang puteri dari saudagar Cina bernama Ban Hong yang telah lama menganut agama Islam.

Suatu ketika Jin Bun alias Raden Patah menghadap Raja Majapahit Prabu Kertabhumi bersama Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Bhre Kertabhumi mengakui Jin Bun sebagai putranya, dan atas usul Bong Swi Hoo, Jin Bun diangkat menjadi Bupati di Bin Ta La atau Bintara dengan gelar pangeran. Jin Bun berkedudukan di Demak.

Pada tahun 1478 Bong Swie Hoo alias Sunan Ampel wafat. Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Ageng Kutu terbukti ketika Jin Bun tidak melawat ke Ampel tetapi berangkat ke Majapahit membawa tentara muslim. Demak memberontak. Pusat kerajaan Majapahit diserbu. Karena menghormati nasehat gurunya yaitu Sunan Ampel, agar jangan menggunakan kekerasan terhadap raja Majapahit –hal ini dikarenakan raja tidak pernah menghalang-halangi penyebaran agama Islam, Prabu Kertabhumi akhirnya ditawan dan dibawa ke Demak. Pusaka-pusaka kebesaran kerajaan diangkut, dibawa oleh tujuh kuda ke Demak, namun keraton Majapahit tidak dibumihanguskan.

Kritik simbolis itulah kemudian diwujudkan dalam kesenian barongan/reyog yang dibuatnya, di mana dadak-merak berunsur utama kepala harimau yang ditunggangi seekor merak dengan bulu ekor yang mengembang. Prabu Bhre Kertabhumi dilambangkan sebagai harimau dan isterinya yaitu putri Cina dilambangkan merak. Pembuatan barongan itu sendiri bertujuan untuk menyindir Raja Majapahit yang dianggap tidak dapat menjalankan tugas kerajaan secara adil dan tertib karena dipengaruhi oleh permaisurinya.

Bukan hanya itu, Ki Ageng Kutu juga melakukan boikot pembayaran pajak, upeti, dan semua persembahan kepada raja. Dan siapapun yang datang ke Kutu untuk kepentingan Majapahit dia hadapi dengan seluruh kekuatan bersama rakyatnya. Kemampuan fisik dan kesaktian disiapkan. Ki Ageng Kutu telah mengibarkan bendera oposisi dan perlawanan terhadap Majapahit.

Batara Katong

Katong adalah seorang muslim. Ia disebut-sebut sebagai salah seorang putra Bhre Kertabhumi dari seorang selir yang diungsikan ke Demak. Kehadirannya ke Ponorogo adalah atas restu dan dorongan Sunan Kalijaga yang selalu memantau dari kejauhan dalam rangka melakukan Islamisasi. Tetapi bukan mustahil jika kedatangannya ke Ponorogo sengaja karena didasari oleh kenyataan bahwa ada musuh ayahnya yang melakukan pembangkangan. Dalam pandangan Demak, Ponorogo harus diislamkan, tetapi bagi Katong sendiri, Ki Ageng Kutu juga harus dimusnahkan.

Untuk menundukkan kademangan Kutu tersebut, Batara Katong menempuh berbagai macam cara, termasuk merayu anak Ki Ageng Kutu agar dapat mencuri pusaka kademangan. Walau pusaka kademangan sudah hilang namun Ki Ageng Kutu masih sulit ditundukkan karena pengorganisiran rakyat bawah yang kuat berikut kesaktian yang dipunyainya.

Cerita perang Kutu-Katong, seperti yang terlukis dalam Babad Ponorogo dan banyak cerita dari tokoh-tokoh di Ponorogo berlangsung sangat seru dan heroik. Keduanya sama-sama sakti dan mempunyai bala tentara yang banyak dan kuat.

Perang terjadi. Pada awalnya Katong dan pasukannya terdesak mundur, namun atas bantuan Ki Ageng Mirah, seorang pendamping setia Batara Katong, Betara Katong dan bala tentaranya mulai bisa mendesak mundur Ki Ageng Kutu dan pasukannya ke arah selatan hingga ke sebuah bukit.

Di pegunungan sebelah selatan Ponorogo itulah Ki Ageng Kutu moksa, jasadnya menghilang, sirna tanpa tilas, hilang tak berbekas dan meninggalkan kutukan: “Barangsiapa yang berstatus pejabat datang ke tempat itu akan mengalami celaka.” Bau bacin, busuk dan menyengat kemudian tersebar. Hingga sekarang perbukitan tersebut dikenal penduduk sebagai Gunung Bacin.

Koalisi Katong-Mirah

Akhirnya diangkatlah Batara Katong menjadi Bupati Ponorogo pertama. Kesenian Reog tetap dilestarikan. Namun setelah itu koalisi Katong-Mirah memberikan perubahan kecil namun mendasar pada kesenian reyog tersebut. Burung merak di dadak-merak kemudian diwujudkan dengan mematuk tasbih. Penafsirannya pun akhirnya menjadi berbeda. Kepala harimau digambarkan dengan Ki Ageng Kutu, sedang burung merak yang mematuk tasbih ditafsirkan sebagai Batara Katong yang telah mengalahkan Ki Ageng Kutu dengan keislamannya

Selanjutnya reog terus berkembang di kalangan masyarakat. Selain sebagai sarana hiburan, reog dan barongan juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan persatuan dan kegotongroyongan. Karena kesenian tersebut dapat menggalang persatuan maka pada masa penjajahan Belanda dan Jepang kegiatannya sangat dibatasi. Bahkan pernah dilarang sama sekali, karena penjajah khawatir jika kesenian reog mampu menggalang persatuan di kalangan para pejuang yang tangguh.

Perlu digarisbawahi, kesenian reog dan barongan bukanlah hadir tanpa makna. Seni budaya tersebut sangat politis. Sejarah tersebut telah ditulis dengan nyawa dan darah. Sehingga terlepas dari isu nasionalisme atau internasionalisme, inilah sejarah dari sebuah kesenian rakyat, yang keberadaannya masih ada hingga sekarang. Moga bermanfaat dan menjadi kajian analisa kawan-kawan.

Matur nuwun.

Pegunungan Kendeng Utara Blora, 05 September 2009

Koko' - Samijoyo Group

0 komentar:

Lorem ipsum

Labels